Kategori
Daily Devotional

Melangkah dalam iman kepada Janji Allah

Yosua bangun pagi-pagi, lalu ia dan semua orang Israel berangkat dari Sitim, dan sampailah mereka ke sungai Yordan, maka bermalamlah mereka di sana, sebelum menyeberang.

Baca Yosua 3:1-7
Cerita Rahab di pasal sebelumnya tentang orang Israel menyeberangi laut teberau, kisah nyata itu masih menakutkan bagi bangsa Kanaan.
 
Bahkan mungkin saja mereka beranggapan bahwa Sungai Yordan adalah benteng pertahanan terbaik yang mana tidak mungkin Israel menyeberang Yordan semudah itu, apalagi Israel tidak bisa berenang karena selama mengembara 40 tahun di padang gurung, mereka tidak pernah mengenal sungai. 
 
Selain dari pada itu strategi perang di pesisir sungai sudah mereka (bangsa Kanaan) kuasai dengan baik sehingga berpikir mudah untuk mengalahkan orang Israel.

Mereka sampai ke Sungai Yordan dan bermalam disitu (ay 1)

Mereka tidak diberitahu bagaimana cara menyeberang dan bahkan mereka tak punya peralatan menyeberang.

Tapi disini Allah menuntut mereka beriman, bahwa Allah sanggup membuat mereka menyeberang tanpa alat apapun, sekalipun mereka tidak bisa berenang.

Demikian pula kita sebagai orang percaya, dalam melangkah menjalani kehidupan ini harus memiliki iman, sekalipun belum tahu apa yang ada di depan.

Yosua bangun pagi-pagi.

Untuk mengerjakan iman harus mau bersusah payah, bila ingin mewujudkan hal-hal besar jangan menyukai tidur, ini adalah hukum alam.

Jadi orang percaya harus mengerjakan iman, kita percaya sesuatu yang kita belum lihat, tapi kita harus giat mengerjakannya.  Iman tanpa berbuat pun disebut iman yang mati.

Umat diperintahkan mengikuti Tabut Perjanjian (mereka harus bergantung pada Tabut) ayat 2.

Tabut Perjanjian = lambang atau bukti kehadiran Allah di tengah-tengah mereka.

Bergantung pada tabut = percaya pada pimpinan Allah sendiri.  Allah sendiri yang memimpin di depan, kurang apa lagi? Tidak ada yang lebih baik selain dari mempercayakan Allah memimpin hidup kita.  Allah ada di pihak kita.

Mereka harus bergantung pada imam-iman dan orang lewi yang ditunjuk membawa tabut perjanjian itu.

Para imam dan orang Lewi adalah orang khusus ditunjukkan Allah jadi pemimpin umat, menyampaikan Firman Allah kepada mereka.

Disini sebagai orang percaya dalam melangkah dalam janji Allah kita harus tunduk pada Firman Allah yang disampaikan oleh Hamba-hamba Tuhan, Gembala kita, Pemimpin jemaat di gereja dimana kita berada dengan cara memelihara ibadah kita.  Para pemimpin umat atau para gembala mereka berjalan di depan jemaat menuntun mendahului dalam perjalanan menuju kehiupan kekal di sorga.

Semua jemaat harus ikut Tabut Perjanjian

Jangan pernah tinggalkan Tabut itu, dimana ada ketetapan dan peraturan Allah disitu kita harus tinggal.  Karena tabut berisi 2 loh batu yang bertulis 10 hukum Allah.

Mereka harus menjaga jarak dengan tabut itu (ayat 4)

Jarak antara mereka dengan tabut kira-kira 1km, lumayan jauh.

Menunjukkan rasa takut, hormat dan segan pada Allah

Bahwa Tabut itu tidak perlu dijaga oleh siapapun, karena Allah di dalam-NYA, tabutlah yang menjaga mereka.

Imam yang memikul tabut itu pun bukanlah orang bersenjata

Mengapa tabut itu harus berjalan jauh di depan mereka?  Supaya bisa dilihat, kalau terlalu dekat tidak semua orang bisa melihatnya.  Selain itu jalan itu belum pernah mereka lalui (inilah jalan baru itu)

Saat di padang gurun tidak ada bekas jejak siapapun, semuanya seperti baru, tapi Allah menuntun mereka.  Begitu pula saat sekarang jalan yang baru yang belum pernah diinjak sama sekali bahkan sampai menyeberang sungai yordan.

Selagi masih ada di dunia ini kita harus menanti mempersiapkan diri untuk kejadian2 yang tidak biasa.  Ada banyak resiko yang harus kita lalui dalam perjalanan hidup kita.

Selamat pagi dan selamat beraktivitas, Tuhan memberkati senantiasa.

herrykiswanto16